Tidur sehat sesuai katagori umur

Tidak bisa tidur bahkan hingga dini hari atau insomnia tentunya menyiksa. Gangguan tersebut sudah menjadi hal yang umum terjadi di masyarakat modern yang dipicu oleh gaya hidup yang sibuk, stres, dan perkembangan teknologi.

Penelitian terbaru dalam Journal Sleep dikatakan wabah sulit tidur telah mempengaruhi sekitar 150 juta orang. Tingkatan masalah tidur tersebut berhubungan dengan gangguan depresi dan gelisah. Sementara itu di Indonesia, penelitian lain menyebutkan prevalensi insomnia mencapai 10% dari jumlah populasi, atau sekitar 28 juta orang.

Akibatnya bisa fatal bagi kesehatan apabila terjadi insomia yang berkepanjangan, dan tidak ada penangannan selanjutnya. Konsultan Kesehatan Edward Yong mengatakan insomnia akan memberikan dampak yang serius dalam jangka pendek ataupun jangka panjang.

“Ada peningakatan nafsu makan yang dapat menyebabkan obesitas dan diabetes, selain itu juga meningkatkan risiko jantung koroner, hipertensi, gangguan sistem kekebalan tubuh itu untuk jangka pendek dan menengah, untuk jangka panjang bisa menyebabkan kanker,” jelasnya di Jakarta.

Untuk menghindari hal tersebut, Edward mengatakan terdapat tiga elemen kualitas tidur yang baik yakni durasi, kontinuitas, kedalaman. Durasi merupakan panjang tidur harus cukup bagi seseorang untuk beristirahat dan bangun pada keesokan harinya.

“Kontinuitas, maksudnya waktu tidur tidak berhenti, sedangkan kedalaman artinya tidur harus cukup dalam atau lelap sehingga seseorang merasa segar,” katanya.

Psikolog klinis Aurora Lumbantoruan membenarkan kurang tidur atau buruknya kualitas tidur memiliki dampak negatif yang akhirnya dapat mengganggu kesehatan baik dalam jangka pendek ataupun jangka panjang.

“Dampak buruk dari kualitas tidur yang rendah secara psikologis dapat memengaruhi ingatan dan kemampuan untuk belajar. Selanjutnya, bisa memengaruhi kondisi psikologis seperti depresi, kecemasan, dan sakit jiwa,” katanya.

Dia mengatakan banyak gaya hidup masyarakat modern yang dapat menyebabkan insomnia, seperti membawa pekerjaan ke rumah dan bekerja di malam hari, tidur siang, tidur di kemudian waktu untuk menebus jam tidur yang hilang.

Berdasarkan kondisi tersebut, Aurora menyarakan supaya individu menyadari ritme tubuh sebagai alarm biologis dan menjaganya setiap hari untuk meningkatkan kualitas tidur.

“Tubuh merupakan tanggung jawab utama. Untuk dapat tidur dengan nyaman harus membuat lingkungan tempat tidur nyaman, jangan bekerja di tempat tidur,” lanjutnya.

Berdasarkan laporan hasil survei berjudul Better Sleep, Better Health: A Global Look at Why We’re Still Falling Short on Sleep yang dirilis Phillips baru-baru ini menemukan bahwa gangguan tidur akan berdampak pada kesehatan. Beberapa dampak yang dirasakan di antaranya adalah kelelahan hingga perubahan suasana hati.

Survei yang dilakukan secara online pada Februari 2018 oleh Harris Poll atas nama Philips ini mengupas kebiasaan tidur lebih dari 15.000 orang dewasa di 13 negara, yakni Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Polandia, Prancis, India, China, Australia, Kolombia, Argentina, Meksiko, Brasil dan Jepang.

Diperkirakan lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia menderita sleep apnea. Sebanyak 80% di antaranya tetap tidak terdiagnosis, dan secara global 30% partisipan mengalami kesulitan untuk memulai tidur.

Tidur yang baik sangat penting bagi kesehatan, tetapi hanya sepertiga dari orang dengan gangguan tidur yang mencari bantuan tenaga kesehatan profesional. Melalui kolaborasi dengan Richter dan survei tahunannya, Philips ingin menekankan pentingnya tidur berkualitas bagi setiap orang di seluruh dunia.

David White, Chief Medical Officer, Philips Sleep & Respiratory Care mengatakan tidur adalah landasan gaya hidup sehat. Kualitas dan durasi tidur setiap malam adalah variabel paling penting yang memengaruhi perasaan seseorang pada hari berikutnya.

“Jadi, tidur yang tidak memadai bisa berdampak langsung pada kesehatan kita, tidak seperti olahraga atau diet. Survei ini menunjukkan bahwa walaupun mengetahui bahwa tidur itu penting untuk kesehatan secara keseluruhan, banyak orang masih belum memprioritaskannya,” ujarnya.

Survei tersebut menemukan bahwa mayoritas orang dewasa secara global atau 67% menganggap bahwa tidur berdampak penting bagi keseluruhan kesehatan mereka. Setelah tidur malam yang tidak berkualitas, mereka merasa lelah (46%), murung atau mudah marah (41%), tidak termotivasi (39%), dan mengalami kesulitan berkonsentrasi (39%).

Selain itu, enam atau lebih dari 10 orang dewasa (61%) di dunia memiliki beberapa jenis masalah medis yang memengaruhi tidur mereka. Sekitar seperempat orang dewasa melaporkan insomnia (26%) dan 1 dari 5 orang mendengkur (21%).

Hal tersebut diakibatkan oleh rendahnya pengetahuan menjaga kebiasaan tidur yang baik. Dalam survei tersebut hanya ada sekitar 29% responden yang merasa menyesal tidak menjaga kebiasaan tidur yang baik.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan keinginan mereka untuk berolahraga secara rutin, yakni 3-4 kali dalam sepekan sebanyak 49% dan menjaga makan sehat sebanyak 42%.

Faktor kecemasan membuat lebih dari setengah orang dewasa di dunia terjaga di malam hari dalam 3 bulan terakhir tercatat sebanyak 58%. Kesulitan tidur tersebut juga diakibatkan oleh kebiasaan menggunakan perangkat teknologi yang dialami 26% responden.